Penampilan bocah umur 14 tahun ini cenderung biasa-biasa saja. Sama seperti anak-anak kebanyakan. Ada gaya cuek-nya tapi ada kala serius. Sesekali tampak pemilik tinggi badan 150 Cm dan berat 37 Kg ini, membolak-balik buku komik yang ada di tangannya, di sela-sela jumpa pers Seminar Analisa Sidik Jari yang digelar Super Brilliance Kids, Kamis (21/10/2010).

Siapa sangka di balik gayanya itu, Dominic Brian –nama lengkap bocah ini– seorang pemecah rekor dunia. Daya ingatnya yang super membawa Brian tercatat di Guinness World Record, atas kepiawaiannya mengingat 76 digit angka dalam satu menit, yang pernah dipecahkannya 17 Agustus 2009 lalu.

Didampingi ibunya, Ny Debora, Brian yang asli Surabaya tetapi
berdomisili di Bali ini, hadir di Palembang. Kota ini akan menjadi saksi sejarah bagi Brian untuk memperbaiki rekor yang telah dicapainya, pada Minggu (24/10/2010) mendatang. “Brian akan memecahkan rekornya sendiri, mengingat 100 digit angka dalam satu menit,” kata Debora.

Selain rekornya sendiri, Brian yang kelahiran 26 November 1996 ini juga akan memecahkan rekor dunia lainnya yang saat ini dipegang Niscal, seorang kebangsaan India. Niscal pemegang rekor dunia mengingat 132 digit angka binari (angka yang hanya terdiri dari 0 dan 1) dalam satu menit. “Brian akan coba memecahkan rekor Niscal dengan mengingat 240 digit dalam waktu satu menit,” ujar Debora yang sehari-hari berprofesi sebagai pendidik lewat lembaga kursus yang didirikannya Smart Living Center (SLC) yang saat ini telah membuka cabangnya di Palembang.

Kemampuan Brian ini diketahui sejak usianya lima tahun. Dari kecil putra semata wayang Debora dan Gideon Hindarto ini selalu aktif, tak bisa diam. “Umur tiga sampai lima tahun kalau saya ajak ke mal, tahu-tahu udah lari aja ke mana. Sampai dicari-cari, saking aktifnya. Kinestatiknya memang tinggi,” ujar Debora. Pada usia lima tahun pula, Brian sudah memecahkan rekor orang termuda yang mampu mengingat 100 digit angka dalam 12 menit.

Lalu bagaimana persiapan Brian pada Minggu ini? Ternyata latihan-latihan dilakukannya cukup matang. “Setiap hari kerja saya belajar, main, belajar, main. Gitulah. Selang-seling. Jam 21.00 saya tidur,” ujar Brian yang pernah mengukur sendiri IQ-nya lewat internet. “Nilai IQ-nya 145,” sambung Debora.

Brian yang mengikuti home schoolling lewat jaringan Advanced Training Institute International (ATTI) Amerika Serikat menyukai apa pun pelajaran, mulai dari sejarah, IPA, matematika dan Bahasa Inggris. “Kalau sudah besar saya ingin kuliah di China Finance & Marketing dan mengembangkan kecerdasan saya. Saya juga mau nerusin SLC (kursus milik orangtuanya, red) di Indonesia,” ujar Brian.

Andrian Beni Hidayat, dari Talent Spectrum –Vendor Analisa Sidik Jari– asal Bandung, mengatakan Brian memang memiliki kemampuan lebih dari orang kebanyakan dilihat dari sidik jarinya. “Brian memiliki sidik jari tipe art pada jari tengah dan telunjuknya. Tipe jari seperti ini hanya dimiliki 10 persen penduduk dunia,
yang memiliki daya ingat/tangkap yang tinggi,” kata Beni.

Sementara, owner SBK Palembang Johannes Agus Taruna, berharap acara pemecahan rekor yang digelarnya Minggu nanti, dapat memotivasi orangtua anak-anak, bahwa setiap anak dengan cinta dan dukungan dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya.