Penyakit kanker selama ini menjadi momok bagi masyarakat dan menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian di Indonesia, yang ternyata dipicu juga oleh pola makan yang tidak seimbang ataupun pencemaran makanan.

Namun, menurut Dr. Ir. Francisca Zakaria, MSc, peneliti dan pengajar di Fakulas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor, Kamis (23/3), kanker sebenarnya bisa dicegah, dan hal ini dilakukan dengan memperbaiki konsumsi makanan.

“Diantaranya adalah sayur dan buah yang berwana hijau seperti brokoli, paria dan cincau hijau yang mengandung khlorofil. Selain itu, juga wortel, tomat jeruk dan makanan lain yang berwarna oranye yang kaya akan karoten juga sangat membantu pencegahan kanker,” katanya.

Paparan Francisca Zakaria tersebut pernah disampaikan pula dalam seminar bertema “Pemahaman, Pencegahan dan Penanggulanan Kanker Pada Wanita” di Auditorium Rektorat IPB Kampus Darmaga.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit tidak menular yang berawal dari perubahan materi genetika, atau DNA, yang ada pada sel normal dan menghasilkan sel yag tidak sama lagi dengan induknya.

“Inilah yang disebut mutasi gen dan 15 persen diantaranya terjadi karena keturunan, sedangkan sisanya disebabkan faktor luar tubuh seperti virus, infeksi berkelanjutan, polusi udara, radiasi, dan bahan kimia asing pada makanan,” katanya.

Ia mengatakan, sel yang gennya telah termutasi ini, bila sempat hidup terus maka akan menjadi cikal bakal dari tumor atau kanker, karena bila ia sempat meneruskan hidupnya dan membelah diri untuk tumbuh maka akan menjadi jaringan tumor.

“Ini tentunya sangat berbahaya karena dapat menggerogoti tubuh dan menyedot zat-zat gizi sebanyak mungkin dan membuat pembuluh darah sendiri,” katanya.

Dengan melihat data bahwa 85 persen kanker disebabkan oleh faktor luar, kata dia, maka kanker sebenarnya bisa dicegah.

Ditegaskannya bahwa hal itu dapat dilakukan dengan memperbaiki konsumsi makanan sehingga diperoleh semua 44 jenis zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh secara cukup dan tersedia setiap saat.

Ia mengingatkan bahwa pada dasarnya tubuh manusia mempunyai sistem imun yang ajaib yang dapat memberantas segala macam mikroorganisme termasuk virus dan juga membunuh sel kanker.

Oleh karena itu, kata dia, sistem imun ini membutuhkan zat gizi yang cukup sehingga dapat menjadi “Natural Killer” (pembunuh alami) pada sel yang termutasi dan terinfeksi virus.

Salah satu yang dapat merangsang keaktifan sistem imun ini diantaranya adalah jahe dan beberapa jenis jamur.

Cara lainnya adalah mencegah masuknya senyawa-senyawa karsinogenik dengan menghindari makanan yang mengandung residu pestisida, logam-logam berat, bahan-bahan kimia yang ada di makanan, obat-obatan yang berlebihan, debu, senyawa buangan dari industri dan kendaran, serta asap rokok.

Selain itu, juga dengan memperbaiki sistem detoksifikasi tubuh dan juga dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan seperti karotenoid, vitamin A, C, E, senyawa “flavonoid”, “isoflavon”, “terpenoid”, “isotionoid”, “khlorofil”, dan “fenol” sederhana yang dapat menjadi tameng pencegahan.

Menurut dia, makanan-makanan yang mengandung zat-zat tersebut ternyata tidaklah sulit untuk menemukan dan mengkonsumsinya karena banyak bahan-bahan makanan tersebut yang biasa ditemui sehari-hari, yakni sayur dan buah yang berwana hijau serta oranye tersebut.

Ia menyarankan agar konsumsi sayur dan buah-buahan sedikitnya mencapai 400-800 gram perhari untuk mendapatkan zat antioksidannya.

Untuk sat gizi dan protein sebaiknya diperoleh melalui ikan, daging putih, telur, susu, telur dan kacang-kacangan. Sedangkan untuk karbohidrat, konsumsi yang dinjurkan adala beras jagung, terigu dari gandum utuh, singkong, ubi jalar, talas, ataupun pisang.

Khusus untuk konsumsi lemak, ia mengingatkan agar menggunakan lemak nabati yang kaya akan linoleat, dan asam oleat yang banyak terdapat di jagung, kedele, serta alpukat.